Minggu, 03 Agustus 2008

apa yang dilakukan bila pasien suspect hipertensi ?


Pasien secara klinis dinyatakan menderita tekanan darah tinggi apabila dalam suatu pemeriksaan tekanan darah, didapat tekanan sistole lebih dari 140 mmHg atau tekanan diastole melebihi 90 mmHg. Dalam praktek sehari-hari sering dijumpai pasien dengan tekanan darah tinggi, dan pada umumnya terkontrol dengan pemberian obat-obatan seperti beta-blockers, diuretic, calcium channel blocker dan ACE (Angiotensin Converting Enzyme) inhibitor. Terkadang juga dijumpai keadaan dimana pasien mengalami peningkatan tekanan darah secara signifikan di tempat praktek. Hal tersebut sebagian besar berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan dapat dikatakan alamiah. Namun hal ini dapat juga disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap obat yang sudah diresepkan, penggunaan obat agonis adrenergic serta dapat berhubungan dengan kondisi medis yang belum terungkap, seperti keadaan hipertiroidism atau pheochromocytoma. Berdasar pada beberapa hal tersebut, maka sangat penting kiranya bagi para dokter gigi untuk selalu melakukan pengukuran tensi sebelum melakukan tindakan.

Pasien yang mendapat terapi antihipertensi sebaiknya melanjutkan pengobatan seperti yang diresepkan sebelum mendapat prosedur dental. Penghentian pengobatan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah pasien tak terkontrol sehingga dapat membahayakan jiwa. Pasien dengan tekanan sistolik antara 140-160 atau tekanan diastolik antara 90-100 dapat menerima perawatan gigi secara rutin tanpa komplikasi yang signifikan, tapi memerlukan evaluasi oleh dokter yang merawat untuk melihat peningkatan tekanan darah dari waktu ke waktu. Perawatan hendaknya ditangguhkan sampai evaluasi selesai dilakukan dan perlu dilakukan manajemen hipertensi apabila tekanan darah melebihi batas yang dianjurkan (> 160/100). Tekanan darah yang melebihi 200/115 dapat dikategorikan sebagai keadaan gawat darurat medis, pasien yang mengalami keadaan tersebut hendaknya segera dirujuk ke dokter yang merawatnya atau UGD terdekat. (dm-s)

Pheochromocytoma: tumor neuroendokrin yang menyerang medula pada kelenjar adrenal (berasal dari sel-sel chromaffin) atau jaringan Chromaffin adrenal ekstra yang gagal mereduksi setelah lahir. Tumor ini mengeluarkan sejumlah besar sekresi katekolamin (biasanya epinerfin dan norepinefrin).