Minggu, 13 Juli 2008

aspek kesehatan gigi pada usia lanjut


Meski ditakuti semua orang, namun masa lanjut usia (lansia) pasti datang. Lansia adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang akan dikarunia usia panjang. Tandanya, ada perubahan anatomis, fisiologis, dan biomekanik di dalam sel tubuh sehingga mempengaruhi fungsi sel jaringan dan organ tubuh.
‘’Penuaan didefinisikan sebagai suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga lebih rentan terhadap penyakit dan tidak dapat memperbaiki kerusakan yang dideritanya,’’
Tanda dan gejala penuaan antara lain, terjadi kemunduran biologis. Gejalanya, fisik mundur. Misalnya, mulut mulai mengendor. Wajah timbul garis-garis menetap dan keriput. Rambut beruban. Kehilangan gigi geligi. Penglihatan dan pendengaran mulai berkurang. Mudah dan cepat lelah. Gerakan lamban dan tidak lincah. Juga kerampingan tubuh hilang.
Gejala lain,, terjadi kemunduran kemampuan kognitif. Misalnya, menjadi pelupa. Skor yang dicapai dalam tes intelegensia lebih rendah. Tidak mudah menerima hal-hal atau ide-ide baru.
‘’Tapi, menjadi tua dapat mendatangkan suatu keuntungan karena dianggap lebih bijaksana dan berwibawa. Akibatnya, dipercaya melaksanakan berbagai tugas kemasyarakatan,’’
Menurut laporan Biro Sensus USA, peningkatan jumlah populasi lansian di Indonesia tahun 1990-2025 akan mencapai 414%. Ini merupakan angka tertinggi di dunia. Berdasarkan data kependudukan tahun 2003, jumlah lansia yang berusia lebih 60 tahun adalah 17.777.700 jiwa dari total populasi. Dan, ini akan terus meningkat seiring dengan peningkatan usia harapan hidup. Tahun 2000, Indonesia merupakan negara ke-4 dengan penduduk lansia terbanyak setelah China, India, dan Amerika Serikat.
Berbicara mengenai masalah kesehatan gigi pada lansia, putra pasangan Drs.H.A.Razak Yunus Petta Lallo/Hj Sitti Saadiah Dg Caya ini mengatakan, kehilangan gigi pada lansia merupakan salah satu penyebab menurunnya kualitas kesehatan lansia. Kehilangan gigi akan sangat berpengaruh terhadap penyerapan dan metabolisme zat gizi yang diserap oleh tubuh sehingga tubuh kekurangan gizi.
Kata Dharmautama, pada masa depan, perawatan gigitiruan (GT) akan lebih bervariasi dan rumit. Fakta menunjukkan, pasien cenderung menunda perawatan GT, sehingga timbul kesulitan dalam pembuatannya. Sebab, terjadi kerusakan yang lebih parah.
‘’Kesulitan ini sebagian dapat diatasi dengan pemasangan GT lepasan, GT jembatan maupundengan pemasangan implan. Meskipun demikian, kemunduran fisik yang kronis, emosi, dan kesehatan dapat melemahkan prognosis perawatan secara menyeluruh, jika perawatan kesehatan gigi dan mulut tidak dilakukan secara teratur,’’ ujarnya.
Perubahan morfologis dan fungsional yang terjadi pada lansia menyebabkan perlu penegakan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat. Beberapa faktor yang perlu diperhatian; faktor sistemik mencakup nutrisi, penyakit sistemik, perubahan neurofisiologis, perubahan mental. Faktor lokal meliputi:perubahan fisiologis rongga mulut, ‘’atropi alveolar ridge’, ‘’lesi mukosa rongga mulut’’, kebersihan ‘’rongga mulut’’.
Ada beberapa faktor yang perlu mendapat perhatian pada perawatan gigi lansia dengan rencana perawatan pembuatan GT antara lain;
• Tidak semua gigi yang tersisa harus dicabut. Jangan paksakan untuk membuat GT penuh. Untuk mencabut sisa akar gigi pun perlu pertimbangan.
• Pasien yang telah lama memakai GT dan telah merasa nyaman dengan GT-nya sebaiknya tidak dipaksa membuat yang baru, hanya bila terlihat ada kelainan di mulut akibat GT tersebut.
• Pada lansia umumnya mengalami kemunduran dari organnya dan akan berpengaruh pada keberhasilan perawatan GT.
• Pasien lansia sering memperbesar masalah/keluhan, sehingga kita sering terkecoh jika kurang waspada. Untuk itu jangan terlalu banyak memberi janji muluk agar tidak mengecewakan pasien.
• Kondisi fisiknya telah lemah, untuk itu kunjungan dipersingkat tapi padat hasil.
• Jarak dimensi vertical (tinggi wajah dalam arah vertikal) pada lansia secara fisiologis selalu berkurang dengan bertambahnya usia, dan sifatnya ‘’irreversible’’; tapi jarak ‘’free-way space’’ bertambah (kira-kira 5-10 mm).
• Posisi antar-rahang harus ditetapkan secara cermat.
• Perbaikan GT yang longgar dilakukan setelah pemeriksaan klinis menunjukkan indikasinya.
• Ketidakstabilan emosi, banyak pasien mengajukan keluhan yang sebenarnya tidak ada.
• Penurunan kemampuan mendengar, melihat, mengingat, dan menangkap informasi akan menyulitkan komunikasi antara doktergigi dengan pasien.
• Koordinasi motorik yang rendah mengakibatkan penderita sulit membersihkan gigi dan rongga mulut, yang pada akhirnya berdampak pada kemunduran kesehatan gigi.
• Kekebalan tubuh yang menurun memungkinkan sel-sel mudah mengalami kerusakan, reaksi alergi, infeksi, serta proses penyembuhan yang lambat.