Kamis, 07 Mei 2009

RONGGA MULUT SEBAGAI BAGIAN INTEGRAL PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK BALITA

RONGGA MULUT SEBAGAI BAGIAN INTEGRAL
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK BALITA
Mochamad Fahlevi Rizal, drg., SpKGA
Staf Pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UI
Ketua Pengurus Daerah DKI Jaya Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI)
(Diterbitkan di Majalah Ikatan Dokter Anak Indonesia Medio 2008)

Permasalahan di dalam rongga mulut anak seringkali dipandang sebagai suatu hal yang tidak terlalu penting oleh orang tua. Anak yang memiliki karies pada giginya, bahkan dalam jumlah yang luar biasa banyaknya, tidaklah menjadi perhatian serius bila dibandingkan keluhan sakit kepala, batuk atau pilek yang pada dasarnya merupakan hal alami yang dijalani seorang anak sebagai proses pemaksimalan sistem imun terhadap infeksi di dalam tubuhnya. Sementara itu karakteristik kunjungan pasien gigi anak di Indonesia adalah berkunjung ke dokter gigi setelah menderita sakit sehingga menggangu aktifitas si anak. Sementara bila ditelaah lebih mendalam, kebutuhan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sejak dini akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.

Pada dasarnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut bukanlah sekedar dan sesederhana menggosok gigi dua kali sehari. Pembersihan rongga mulut hanyalah sebagian kecil dari upaya preventif untuk mendapatakan kondisi rongga mulut yang sehat sebagai bagian penting dari pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial khususnya dan tubuh anak pada umumnya. Dalam pemaparan selanjutnya akan dibahas hal-hal yang dianggap penting untuk mempersiapkan anak balita agar mendapatkan kualitas kesehatan gigi dan mulut yang opti
mal sebagai bagian integral pertumbuhan dan perkembangannya.


Anak ”Belajar” Untuk Memiliki Rongga Mulut yang Baik
Bila seorang ibu bertanya, ”kapan rongga mulut anak saya harus diperhatikan?”, maka jawabannya adalah ”sejak anak ibu lahir”. Tentu secara logika sederhana akan muncul pertanyaan selanjutnya, ”kenapa dan bagaimana caranya?”. Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu proses pemelajaran bagi anak. Perlu waktu yang panjang dan upaya yang gigih dari orang tua untuk mendampingi proses pemelajaran ini. Banyak hal yang perlu menjadi perhatian, terutama dengan mempertimbangkan pertumbuhan dan perkembangan biopsikososial anak. Contoh sederhana adalah bayi yang menghisap ibu jari.
Telah kita ketahui menghisap ibu jari merupakan suatu prilaku bayi yang telah dilakukannya sejak masih di dalam kandungan. Ketika bayi itu lahir proses ini berlanjut sebagai upaya mencari kenyamanan sebagaimana yang dirasakannya ketika masih berada di dalam kandungan. Dalam upaya memahami proses pemelajaran anak tadi, maka ketika bayi lahir dan bayi itu melakukan upaya untuk menghisap ibu jarinya, seorang ibu dan orang-orang disekitarnya harus secara konsisten menjaukan ibu jarinya dari rongga mulut dan kenyamanan diupayakan salah satunya dengan memberikan ASI penuh kasih sayang. Proses menghilangkan kebiasaan ”buruk” ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai bayi itu benar-benar terbebas dari kebiasaan tadi.
Bila kebiasaan ini berlanjut sampai lewat dari usia enam bulan, maka akan lebih sulit untuk menghilangkannya karena kebiasaan itu telah menjadi fokus utama pencarian kenyamanannya. Sementara itu kondisi rongga mulut akan mengarah pada pertumbuhan dan perkembangan yang negatif dengan gambaran klinis berupa palatum yang dalam, protusi rahang atas dan protraksi rahang bawah. Dalam perubahan yang ekstrim keadaan ini akan mencacat muka sehingga secara psikologis akan berpengaruh dalam kehidupan sosial anak di masa yang akan datang.

Mulai Makan Padat sejak Dini
Hal sederhana lain adalah upaya anak untuk belajar makan makanan padat. Kesibukan orang tua dengan dikompensasi menitipkan anaknya pada pengasuh, ternyata membawa dampak yang luar biasa pada balita untuk pemelajaran makan makanan padat. Anak yang tidak memiliki masalah pada saluran pencernaan, seharusnya sudah bisa mulai menerima makanan padat sekitar umur satu tahun. Proses ini membutuhkan tahapan untuk mencapai konsistensi makanan yang diinginkan. Dengan alasan anaknya tidak mau mengunyah karena ketika makan daging sering menyisakan ampas, atau seorang ibu takut anaknya tersedak bila makan yang padat, maka proposi pemberian susu dilakukan lebih besar dibandingkan makanan utamnya. Hal ini memberi efek anak semakin tidak mau makan padat karena terasa sudah kenyang.
Dari aspek perkembangan rongga mulut, hal ini membawa dampak negatif yang berkepanjangan dan orang tua tidak sadar bahwa kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembagan rongga mulut yang mereka temui di usia enam tahun merupakan kesalahan yang mereka lakukan sendiri terhadap anaknya di usia-usia dini. Anak yang memiliki kemampuan makan padat yang baik tentunya akan tercukupi secara gizi. Akan tetapi tidak hanya sekedar kecukupan gizi saja yang didapat anak tersebut, kemampuan mengunyah yang memang perlu dilatih dengan makan-makanan yang padat ini akan membawa dampak positif akibat stimulasi mekanis terhadap pertumbuhan rahang balita serta kekuatan otot di sekitar rongga mulut. Akhir-akhir ini sering sekali ditemukan kasus persistensi gigi susu ketika gigi tetap telah erupsi lebih dahulu, sementara gigi susu masih berada ditempatnya. Hal ini membuat arah pertumbuhan gigi tetap menjadi tidak menentu, dan bila ini dibiarkan akan menjadi salah satu penyebab maloklusi di masa-masa pertumbuhan anak berikutnya.
Hal lain dari makanan padat adalah kemampuannya untuk dapat melakukan self cleansing terhadap rongga mulut. Makanan padat dan juga serat dari buah dan sayur secara fisiologis akan memaksa mulut manusia untuk menggerus dan menghancurkannya sebelum masuk ke saluran pencernaan selanjutnya. Bersamaan dengan proses mekanis ini, biofilm (plak) yang terbentuk di permukaan gigi akan terbawa bersama bolus makanan. Bila diperhatikan pada anak yang memiliki karies yang luas, sehingga tidak mampu untuk mengunyah dengan baik atau bahkan tidak mau makan karena gigi yang sakit, akan membuat permukaan giginya menjadi kotor sekali dibandingkan dengan permukaan gigi yang sehat dan dipakai untuk mengunyah makanan. Efek oral hygien yang buruk adalah terbentuknya karies dan gingivitis pada anak.

Karies dan Gangguaan Tumbuh Kembang Anak
Karies pada anak akan membawa dampak panjang dan tidak hanya dihubungkan dengan penyakit infeksi akan tetapi berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya. Jaringan keras gigi yang telah terkena karies (sampai tercapai kavitasi) merupakan proses yang irreversible. Pilihan perawatannya adalah penumpatan, perawatan endodontik atau dalam kondisi yang begitu parah adalah ekstraksi (pencabutan gigi). Karies di daerah proksimal (sela antara dua gigi susu) akan membuat kontak antara dua gigi susu itu hilang. Hal ini membuat posisi gigi ini akan berubah secara horizontal akibat proses pertumbuhan dan perkembangan giginya. Bila pergeseran secara horizontal ini menjadi begitu ekstrimnya, bahkan sampai hancurnya mahkota sehingga dimensi interproksimal berkurang ukurannya, maka gigi tetap yang akan erupsi berikutnya tidak akan mendapat tempat yang cukup. Sementara rata-rata dimensi gigi tetap lebih besar dibandingkan dengan dimensi gigi susu.
Selain itu bila karies berada di daerah oklusal, ini akan membuat dimensi vertikal anak akan berubah lebih pendek, sehingga akan membuat dimensi vertikal gigi tetapnya akan mengikuti pola ini. Dan bila dilihat dari perbandingan simetrikal fasial yang terbagi atas sepertiga muka atas (dahi sampai glabela), sepertiga muka tengah (glabela sampai philtrum), dan sepertiga muka bawah (philtrum sampai menton) tentunya dimensi vertikal yang berubah tadi akan merusak kesimetrisan ini.

Hal lain yang berhubungan dengan karies adalah pemberian susu dalam jangka waktu yang panjang dan dengan cara yang salah. Orang tua yang menjadikan susu sebagai segala-galanya pada anak akan berbalik menjadi malapetaka bagi anak itu sendiri. Banyak terlihat anak balita minum susu dengan menggunakan botol susu dengan tidak benar. Ketidakbenaran ini terlihat dengan minum susu botol sebagai pengantar tidur atau minum susu dengan botol yang tidak sekedar untuk mendapatkan asupan nutrisi tetapi digunakan sebagai ”mainan” dengan membawa-bawa botol berisi susu tersebut berlama-lama di dalam mulut. Atau hal lain adalah masa penggunaan botol yang terlalu lama, bahkan ada yang menggunakannya sampai usia tujuh tahun, tidak sekedar menjadikan resiko karies yang besar akan tetapi juga resiko terjadinya maloklusi yang cukup signifikan. Sebaiknya di usia dua tahun cara pemberian susu tidak lagi dengan botol susu. Kembali kepada peran orang tua yang tidak menyempatkan waktunya untuk anak belajar minum melalui gelas dan fenomena intervensi anggota keluarga lain (nenek, kakek atau tante) membuat orang tua sulit untuk menentukan waktu dan cara yang tepat untuk terbebas dari kebiasaan ini.

Pathogenesis karies pada gigi susu, sebagai penyakit infeksi, tidak selesai sampai gigi itu mengalami kerusakan jaringan keras saja. Keadaan ini bila tidak dirawat akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan benih gigi tetap yang sudah ada di bawahnya dan sedang mengalami proses maturasi. Hipoplasia enamel merupakan hal umum terlihat pada gigi tetap yang riwayat gigi susu di atasnya mengalami karies yang parah. Hipoplasia enamel ini merupakan kelainan terhadap proses maturasi email akibat produk inflamasi yang terjadi di daerah apikal gigi susu yang mengalami karies pada anak balita. Kondisi paling paling parah dari keadaan inflamasi di periapikal gigi susu tersebut adalah terjadinya kerusakan bentuk dari benih gigi tetap di bawahnya dan ini tentu akan membawa dampak yang buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.


Kesehatan Rongga Mulut Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Hal-hal diatas hanyalah sebagian kecil fenomena klinis yang ditemukan pada anak balita. Masih banyak hal lain yang perlu mendapatkan perhatian yang mendalam tentang berbagai aspek yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Untuk itu perlu kiranya upaya pencapaian kesehatan gigi dan mulut ini disinergikan dengan upaya pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Pemeriksaan intra oral dan evaluasinya perlu menjadi perhatian seluruh kalangan kedokteran.
Sampai saat ini di Indonesia perhatian terhadap kondisi intra oral pasien yang menjadi protokol perawatan pasien, baru dijalankan secara konsisten oleh sejawat spesialis/subspesialis jantung dan pembuluh darah, onkologi serta alergi dan immunologi. Untuk penanganan kesehatan anak, perlu kiranya sejawat spesialis anak menjadikan perhatian terhadap karies dan kelainan lain di rongga mulut serta evaluasi kebiasaan pemberian makan pada anak sebagai bagian protokol pemeriksaanya. Saran untuk melakukan pemeriksaan gigi ke sejawat dokter gigi di usia sekitar delapan bulan dan secara berkala melakukan pemeriksaan empat bulan sekali untuk anak balita, telah menjadi protokol standard kesehatan anak di negara-negara maju. Hal ini tentunya akan memberi kontribusi pada tercapainya kualitas anak di masa yang akan datang.